Awal Organisasi Radio Amatir di Republik Indonesia

17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan di kumandangkan dengan menggunakan sarana sederhana karya para Amatir Radio, mulai dari Mikrophone hingga pemancar untuk menyebarluaskan Proklamasi Bangsa Indonesia ke seluruh Dunia.

Era Kemerdekaan Indonesia dimulai, sebagian dari para Amatir Radio tetap bertahan sebagai radio Pejuang dan sebagian lagi membentuk Persatoean Amatir Radio Indonesia (PARI) guna memudahkan koordinasi antar amatir radio dalam menyerap teknologi.

Namun situasi ini tidak bertahan lama tahun 1952 situasi Negara yang tidak menguntungkan dengan munculnya berbagai berontakan, timbul kekhawatiran Pemerintah kalau Amatir Radio dimanfaatkan kaum pemberontak, maka di berlakukanlah keadaan darurat perang (SOB) dan dikeluarkan Maklumat yang berisi : “ Hanya pemancar radio milik pemerintah yang boleh mengudara, dan Perorangan tidak dibenarkan memiliki Pemancar Radio“, dengan keluarnya maklumat tersebut PARI terpaksa di bekukan.

Tahun 1965 yang merupakan sejarah pahit bangsa Indonesia, dan tahun 1966 maerupakan masa pergolakan Mahasiswa yang di dukung Masyarakat untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi pertiwi ini. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang berjuang dengan aksi Demostrasi memerlukan sarana komunikasi dan informasi setelah media Harian KAMI di larang terbit, tangal 14 Februari 1966, sekelompok mahasiwa publistik yang tergabung dalam wadah KAMI membentuk radio siaran perjuangan bernama Radio Ampera. Radio Ampera menginformasikan kepada Masyarakat akan perjuangan mereka dalam menumbangkan ke zaliman Orde lama dan menuntut dibubarkan PKI. Stasiun radio ini hanya betahan hingga tanggal 26 Februari 1966.

Dengan hilangnya Radio Ampera, para laskar Ampera mendirikan berbagai stasiun radio pengganti, seperti, FK UI, STTN, Remaco, TU47 RC, RMD, RH22, RC77, Radio Fakultas Tehnik UI, Radio Angkatan Muda, Kayu Manis, Draba dll. Sudah tentu semua radio siaran itu merupakan siaran yang tak memiliki izin alias Radio gelap. Dengan melakukan kegiatan Komunikasi koordinasi kesatuan Aksi dan Siaran radio perjuangan, semua stasiun radio tersebut menamakan diri sebagai Radio Amatir. Terbentuknya ORARI boleh dikata berawal di Jakarta dan Jawa Barat atau pulau Jawa pada umumnya dan diprakarsai oleh kegiatan aksi mahasiwa, pelajar dan kaum muda,

Munculnya stasiun2 radio amatir tersebut terus bertambah dengan pesat, akibatnya frekuensi kian tidak terkendali, dan pengertian radio amatir menjadi kabur, beberapa tokoh Amatir Radio berupaya untuk menjernihkan suasana, dengan membentuk perkumpulan­-perkumpulan, antara lain:

  • Persatuan Amatir Radio Jakarta (PARD)
  • Persatuan Amatir Radio Bandung (PARB)
  • Persatuan Amatir Radio Indonesia (PARI)
  • Persatuan Radio Amatir Indonesia (PRAI) dll

Perkumpulan ini dibentuk dengan maksud untuk mendata stasiun radio amatir yang bermunculan serta melakukan bimbingan serta pengawasan dan pengedalian terhadapnya, diadakanlah pendataan dan ujian bagi yang berminat serta diterbitkan tanda pengenal dan izin mengudara, baik untuk komunikasi dan eksperimen maupun untuk siaran.

Sadar karena semakin banyaknya radio siaran bermunculan yang memerlukan suatu koordinasi demi tercapainya perjuangan Orde Baru (ORBA) maka dibentuklah pada tahun 1966 oleh para mahasiwa suatu wadah yang diberi nama PARD (Persatuan Radio Amatir Djakarta) diantaranya terdapat nama-nama koordinatornya seperti Willy A Karamoy. Ismet Hadad, Rusdi Saleh dll. Di Bandung terbentuk PARB. Bagi anggota yang hanya berminat dalam bidang teknik wajib menempuh ujian tehnik dan bagi kelompok radio siaran disamping perlu adanya teKnisi yang telah di uji juga wajib menempuh ujian tehnik siaran dan publisistik. Setelah itu kesemuanya diberi callsign menggunakan prefix X, kode area 1 s/d 11 dan suffix 2 huruf sedangkan huruf suffix pertamanya mengidentifikasikan tingkat keterampilannya A s/d F seperti X6AM, X11CB dsb sedangkan untuk radio siaran diberi suffix 3 huruf. Pada mulanya PARD merupakan wadah bagi para amatir radio dan sekaligus radio siaran. Sehingga pada saat itu secara salah masyarakat mengidentikan Radio amatir sebagai radio siaran non RRI. Karena adanya Tingkatan keterampilan, PARD saat itu juga menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat.

Disamping itu terdapat juga para Amatir Radio era 1945-1952 yang tergabung dalam PARI (Persatoean Amatir Repoeblik Indonesia 1950), diantaranya terdapat nama-nama, Soehodo †. (YBØAB), Dick Tamimi †. (YBØAC), Soehindrio (YBØAD), Agus Amanto † (YBØAE), B. Zulkarnaen †. (YBØAU), Koentojo † (YBØAV) dll. Diantara mereka ternyata ada juga yang menjadi anggota PARD seperti, (YBØAE) dan (YBØAU).

Nara Sumber: RAJ Lumenta (YB0BY), Engkus, Herry Sembel (YB0BR), Hasan Koesoema Ardiwinata (YB0AH), MI Khadja (YB0BU), Willy A. Karamoy (YB0BV), M. Faisal Anwar (YB1PR).

17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan di kumandangkan dengan menggunakan sarana sederhana karya para Amatir Radio, mulai dari Mikrophone hingga pemancar untuk menyebarluaskan Proklamasi Bangsa Indonesia ke seluruh Dunia.

Era Kemerdekaan Indonesia dimulai, sebagian dari para Amatir Radio tetap bertahan sebagai radio Pejuang dan sebagian lagi membentuk Persatoean Amatir Radio Indonesia (PARI) guna memudahkan koordinasi antar amatir radio dalam menyerap teknologi.

Namun situasi ini tidak bertahan lama tahun 1952 situasi Negara yang tidak menguntungkan dengan munculnya berbagai berontakan, timbul kekhawatiran Pemerintah kalau Amatir Radio dimanfaatkan kaum pemberontak, maka di berlakukanlah keadaan darurat perang (SOB) dan dikeluarkan Maklumat yang berisi : “ Hanya pemancar radio milik pemerintah yang boleh mengudara, dan Perorangan tidak dibenarkan memiliki Pemancar Radio“, dengan keluarnya maklumat tersebut PARI terpaksa di bekukan.

Tahun 1965 yang merupakan sejarah pahit bangsa Indonesia, dan tahun 1966 maerupakan masa pergolakan Mahasiswa yang di dukung Masyarakat untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi pertiwi ini. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang berjuang dengan aksi Demostrasi memerlukan sarana komunikasi dan informasi setelah media Harian KAMI di larang terbit, tangal 14 Februari 1966, sekelompok mahasiwa publistik yang tergabung dalam wadah KAMI membentuk radio siaran perjuangan bernama Radio Ampera. Radio Ampera menginformasikan kepada Masyarakat akan perjuangan mereka dalam menumbangkan ke zaliman Orde lama dan menuntut dibubarkan PKI. Stasiun radio ini hanya betahan hingga tanggal 26 Februari 1966.

Dengan hilangnya Radio Ampera, para laskar Ampera mendirikan berbagai stasiun radio pengganti, seperti, FK UI, STTN, Remaco, TU47 RC, RMD, RH22, RC77, Radio Fakultas Tehnik UI, Radio Angkatan Muda, Kayu Manis, Draba dll. Sudah tentu semua radio siaran itu merupakan siaran yang tak memiliki izin alias Radio gelap. Dengan melakukan kegiatan Komunikasi koordinasi kesatuan Aksi dan Siaran radio perjuangan, semua stasiun radio tersebut menamakan diri sebagai Radio Amatir. Terbentuknya ORARI boleh dikata berawal di Jakarta dan Jawa Barat atau pulau Jawa pada umumnya dan diprakarsai oleh kegiatan aksi mahasiwa, pelajar dan kaum muda,

Munculnya stasiun2 radio amatir tersebut terus bertambah dengan pesat, akibatnya frekuensi kian tidak terkendali, dan pengertian radio amatir menjadi kabur, beberapa tokoh Amatir Radio berupaya untuk menjernihkan suasana, dengan membentuk perkumpulan­-perkumpulan, antara lain:

  • Persatuan Amatir Radio Jakarta (PARD)
  • Persatuan Amatir Radio Bandung (PARB)
  • Persatuan Amatir Radio Indonesia (PARI)
  • Persatuan Radio Amatir Indonesia (PRAI) dll

Perkumpulan ini dibentuk dengan maksud untuk mendata stasiun radio amatir yang bermunculan serta melakukan bimbingan serta pengawasan dan pengedalian terhadapnya, diadakanlah pendataan dan ujian bagi yang berminat serta diterbitkan tanda pengenal dan izin mengudara, baik untuk komunikasi dan eksperimen maupun untuk siaran.

Sadar karena semakin banyaknya radio siaran bermunculan yang memerlukan suatu koordinasi demi tercapainya perjuangan Orde Baru (ORBA) maka dibentuklah pada tahun 1966 oleh para mahasiwa suatu wadah yang diberi nama PARD (Persatuan Radio Amatir Djakarta) diantaranya terdapat nama-nama koordinatornya seperti Willy A Karamoy. Ismet Hadad, Rusdi Saleh dll. Di Bandung terbentuk PARB. Bagi anggota yang hanya berminat dalam bidang teknik wajib menempuh ujian tehnik dan bagi kelompok radio siaran disamping perlu adanya teKnisi yang telah di uji juga wajib menempuh ujian tehnik siaran dan publisistik. Setelah itu kesemuanya diberi callsign menggunakan prefix X, kode area 1 s/d 11 dan suffix 2 huruf sedangkan huruf suffix pertamanya mengidentifikasikan tingkat keterampilannya A s/d F seperti X6AM, X11CB dsb sedangkan untuk radio siaran diberi suffix 3 huruf. Pada mulanya PARD merupakan wadah bagi para amatir radio dan sekaligus radio siaran. Sehingga pada saat itu secara salah masyarakat mengidentikan Radio amatir sebagai radio siaran non RRI. Karena adanya Tingkatan keterampilan, PARD saat itu juga menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat.

Disamping itu terdapat juga para Amatir Radio era 1945-1952 yang tergabung dalam PARI (Persatoean Amatir Repoeblik Indonesia 1950), diantaranya terdapat nama-nama, Soehodo †. (YBØAB), Dick Tamimi †. (YBØAC), Soehindrio (YBØAD), Agus Amanto † (YBØAE), B. Zulkarnaen †. (YBØAU), Koentojo † (YBØAV) dll. Diantara mereka ternyata ada juga yang menjadi anggota PARD seperti, (YBØAE) dan (YBØAU).

Nara Sumber: RAJ Lumenta (YB0BY), Engkus, Herry Sembel (YB0BR), Hasan Koesoema Ardiwinata (YB0AH), MI Khadja (YB0BU), Willy A. Karamoy (YB0BV), M. Faisal Anwar (YB1PR).

Published on July 11, 2009 at 6:20 am  Comments Off on Awal Organisasi Radio Amatir di Republik Indonesia  
%d bloggers like this: